Dapatkan info setiap update artikel! Subscribe Now!

TENANG

Sebuah cerpen, karya kang najih bersama kang lana, menceritakan seorang remaja bernama faris yang berusaha berjuang melawan kerasnya dunia.
Tenang

Faris sedang membersihkan rumahnya bekas acara tujuh hari ibunya. Kehilangan sosok seorang ibu memang menjadi hal yang sangat buruk bagi faris, sulit bagi seseorang bisa merasa baik-baik saja ketika sosok yang sangat luar biasa harus dia relakan. Namun, faris tetap berusaha untuk kuat dan tabah atas apa yang menimpanya saat ini. ketika itu usianya baru menginjak dua puluh tahun dan dia harus putus sekolah karena ibunya yang saat itu sedang mengidam penyakit kanker otak. Ayahnya sudah meninggal diwaktu usianya masih berusia empat tahun sementara saudara satu-satunya sudah pergi meninggalkannya sewaktu ibunya masih sakit keras. Jadi wajar kalau kehilangan sosok seorang ibu sangat menghantam keras perasaannya. Karena hanya seorang ibulah tempat dimana dia masih bisa merasa aman dari pahitnya kehidupan. Terdengar suara dering handphon dari dalam kamarnya, bergegas ia berjalan ke kamarnya untuk menjawab panggilan. Faris mengerutkan dahinya, melihat nomor tanpa nama membuat faris bertanya dalam hatinya. Karena setelah ibunya wafat dia sudah mengganti nomor salulernya. Dengan perasaan sedikit ragu faris menjawab panggilan tersebut

“woy ujang, lu ngilang kemana aja sih, gua khawatir banget sumpah”

Terlihat faris masih berusaha untuk mengingat siapa pemilik suara itu, suara berat dengan treble yang cukup kuat “mumtaz!?” jawabnya

“yaiyalah, memang siapa lagi kalau bukan gua!”

Mumtaz adalah teman baik yang dia kenal sewaktu masih mengikuti kursus bahasa jepang yang diselenggarakan oleh SMP mereka. Sudah dua bulan mereka tidak bertemu karena waktu itu mumtaz harus kembali ke Jakarta untuk mengurusi berkas-berkas kuliahnya

“besok gua balik ke ciomas ris, jadi lu gak usah kemana mana oke”

“siap ditunggu!”

Tentu faris sedikit senang mendengar hal itu. Sudah beberapa menit yang berlalu mereka masih asyik mengobrol melalui telpon salulernya, saling bertukar kabar, cerita dan lain-lain. Meskipun faris lebih banyak diamnya dari pada bercerita tapi faris sangat senang mendengar kisah yang diceritakan oleh sahabatnya. Tapi mau sekuat apapun mumtaz berusaha mengihuburnya faris tetap merindukan sosok sang ibu

Siang berganti malam, malam berganti siang, faris berencana untuk melakukan hiking ke gunung untuk mencari ketenangan yang mungkin saja itu bisa membuatnya untuk bisa lebih baik dari yang sekarang, pikirnya. Sehingga membuatnya melupakan janji yang telah dia buat dengan sahabatnya. Faris menyiapkan logistik dan peralatan yang dia beli sewaktu menjadi panitia di acara perkemahan remaja di kampungnya. Cukup banyak yang harus dia siapkan karena dia akan berada di gunung sekitar lima hari, Di waktu yang sama mumtaz juga sudah tiba didepan rumah faris, mumtaz terkejut begitu melihat tas carrier sudah bersandar didepan pintu rumahnya. Mumtaz tentunya terkejut karena mereka awalnya sudah buat janji untuk bertemu. Mumtaz bertemu dengan faris yang sudah rapi dengan pakaian hikingnya

“Ris, lu mau kemana?”

“eh mum, lu kapan sampai?”

“gua nanyain elu faris, napa malah tanya balik sih!”

“waduh! Sorry banget bro, gua mau hiking, mau rileks dulu bentar, lain kali aja yaa”

“kok gk ngabarin dulu sih!”

“sorry ya, dadakan juga soalnya hehehe”

Mumtaz dibuat bingung, kok bisa faris melupakan janjinya kemaren padahal dia berencana ingin mengajaknya pergi ke puncak waktu itu. Tapi mau bagaimana lagi mumtaz sangat mengerti apa yang dialami oleh sahabatnya. Jadi dia tidak bisa memaksanya untuk tidak pergi sendirian meskipun mumtaz tidak yakin kalau faris pergi sendirian

“gua berangkat ya”

“hati-hati bro, kalau lu butuh apa-apa kabari gua”

Faris hanya menjawab dengan mengangguk saja lalu pergi, “hati-hati kawan” gumam mumtaz yang masih berdiri dihalaman rumah faris sembari mendoakan keselamatan untuk sahabatnya itu.

Butuh tiga jam untuk faris tiba di gunung, motornya melaju kencang membelah angin jalan dan suara bising dari kendaraan yang lain. Tentu dia sangat menikmati perjalanannya itu, setidaknya batinnya sudah mulai merasa lebih baik dan tenang. Tibanya disebuah persimpangan, ada truk bermuatan counteiner menyalipnya, faris terkejut sehingga membuatnya menepi ketepi jalan. Dengan cepat faris menginjak pedal dan menarik tuas rem. Faris sangat terkejut dengan kejadian itu. Faris diam sejenak untuk menghilangkan rasa kagetnya

“adduhhh, untung aja”

Setelah semuanya merasa baik faris melanjutkan perjalanannya, tak jauh dari persimpangan tadi motor yang dibawanya mendadak mogok. Tentu dia bingung karena satu jam sebelum keberangkatan faris sudah memastikan segalanya aman. Faris mendorong motornya sembari berharap bengkel tidak jauh dari tempat motornya mogok. Cukup berat untuk mendorong motor karena jalanan yang sedikit menanjak, tapi tak lama motor terasa ringan untuk didorong. Faris menoleh kebelakang, dia melihat ada anak kecil yang ternyata ikut membantu mendorong motornya

“gk usah dek, kakak bisa sendiri kok” anak itu hanya tertawa lirih padanya

“mamamu mana dek?”

Faris berusaha untuk menjauhkannya agar dia tidak mengikuti tapi anak itu malah menjawab dengan cara menunjuk ke arah langit. Faris semakin bingung dengan tingkah anak itu, anak kecil yang manis dengan gigi gingsul dan tahi lalat dibawah bibirnya. Namun, faris acuh tak acuh padanya dia berusaha tetap fokus pada tujuannya untuk mencari ketenangan, dia terus mendorong dan akhirnya menemukan sebuah bengkel, untung bengkel itu belum ada pelanggannya

“punten!” faris berusaha memanggil

Keluarlah bapak-bapak berusia sekitar empat puluh tahun, bapak itu tidak berbicara sepatah katapun malah langsung mendorong motor faris masuk ke dalam bengkelnya. Faris berpikir mungkin bapak ini sudah jago kalau soal otomotif jadi tanpa tanya langsung kerja. Faris menunggu di kursi sambil menghisap rokoknya, sekitar sepuluh menit faris menunggu dan motornya sudah tidak mogok lagi

“berapa pak?”

“hari ini saya sedang ada diskon, jadi gratis”

Pikiran faris semakin bingung tapi hatinya senang karena ada diskon. Orang mana yang tidak senang ketika berbelanja bisa mendapatkan diskon apalagi sampai gratis. Faris menghidupkan motornya dan melanjutkan perjalanan, tak jauh dari bengkel tempat dia memperbaiki motornya faris tiba pada tujuannya, memarkirkan motor lalu berjalan menuju loket registrasi. Saat berjalan kesana dia melihat anak kecil yang tadi membantu mendorong motornya, karena penasaran kenapa anak itu bisa sampai kesini, farispun berniat mengejarnya setelah membeli tiket. Saat itu loket sedang kosong, faris memanggil petugas loket namun tidak ada yang menjawabnya. Karena lelah, faris duduk sebentar dikursi yang sudah disediakan. Sembari menunggu faris membakar sebatang rokok lagi, asap mengembul dari mulutnya lalu menghilang bersama udara. Tak lama datang seorang ibu-ibu menghampiri dan memberikannya sebuah tiket

“eh ibu penjaganya ya?, terimakasih ya ibu”

Faris memberikan uang kepadanya namun ibu itu menolak katanya tiket itu sudah disediakan untuknya. Faris berpikir apakah ini hari hokinya atau memang tiket ini sudah dipesan oleh mumtaz karena sudah tahu kalau dia akan hiking ke gunung, itu masih menjadi tanda tanya dipikirannya. Tapi lagi-lagi dia berusaha untuk acuh tak acuh dan tetap fokus pada tujuan pertamanya. Sudah terlalu banyak kejadian aneh yang dialaminya yang sebenarnya membuat faris ingin membatalkan hikingnya itu, tapi dia tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan perjalanan tersebut. Hanya ada satu tanjakan dan dua tikungan, faris sangat menikmati ditambah waktu itu cuaca cukup cerah, banyak burung dan tupai yang hinggap dari satu pohon ke pohon yang lain sampai membuatnya berpikir untuk ingin menetap menjadi manusia gunung dari pada manusia yang hidup dibawah tekanan berat yang dia alami saat ini.

Senja datang menemui faris saat diperjalanan yang membuatnya ingin untuk beristirahat sebentar untuk merenggangkan otot kakinya yang sedikit letih. Faris menemukan sebuah batu yang menurutnya cocok untuk melepaskan penatnya sembari menikmati terbenamnya senja yang bersiap untuk kembali ke tempat peristirahatannya

“hai ma, bagaimana kabar mama disana?, mama gak usah khawatir faris disini baik-baik saja kok”

Tiba-tiba saja faris teringat akan sosok ibu tercintanya meskipun dia tahu kalau yang namanya kematian tidak ada yang bisa menolaknya, tapi faris sangat merindukan ibunya. Faris berencana untuk bermalam, mendirikan tenda dan melanjutkan perjalanannya besok. Usai mendirikan tenda dan menyiapkan beberapa perlengkapan untuk memasak makan malam, faris pergi untuk mengumpulkan beberapa kayu dan ranting kering untuk penerang dan penghangat. Faris berjalan cukup jauh hingga membuatnya masuk ke hutan. Setelah kayu bakar yang dikumpulkannya dirasa sudah cukup, dia bergegas kembali ke tendanya karena sudah mulai gelap. Suara kelelawar dan burung hantu mulai terdengar dan faris merasa sedikit merinding, tentu itu hal yang normal untuk orang yang sedang sendiri di dalam kegelapan apalagi bagi yang sedang solo hiking ke gunung.

Dia mencoba untuk tenang dan segera kembali ke tendannya dengan langkah yang cukup hati-hati, dikerenakan gelap dan faris tidak membawa senter, kaki kirinya tersandung dengan akar pohon yang membuat pergelangan kakinya sedikit terkilir. Dengan jalan yang tertatih-tatih faris terus berjalan, dengan kaki kiri yang cedera faris sampai ditendanya dan menyalakan api sebagai penerang dan penghangat, ia mulai memasak, makan dan beristirahat. Pagi harinya dia masih merasakan kaki kirinya sangat sakit akibat tersandung akar pohon semalam. Tapi, untungnya hanya terkilir tidak sampai mengalami patah tulang. Faris merapikan tenda dan perlengkapan lainnya dan melanjutkan perjalanannya, sekitar dua jam lagi dia akan sampai di puncak. Saat hendak melanjutkan perjalanan dia melihat anak kecil yang waktu itu ikut membantunya mendorong motor. Sudah pasti faris terkejut melihatnya, karena bagaimana bisa anak kecil main ke gunung sendirian begini. Faris mengejar anak itu yang berlari ke arah hutan tempat dia mencari kayu bakar semalam. Dia terus berusaha mengejarnya hingga akhirnya terjatuh lagi karena kakinya yang terkilir itu

“ahh sial!, sakit banget gusti!”

Faris sedikit marah karena khawatir anak itu nanti hilang atau kenapa-kenapa, apalagi ia sedang berada di gunung tanpa pengawasan orang tua. Faris masih berjalan sambil memanggil anak itu “adek!” tidak ada sautan kecuali dari suaranya sendiri yang menggema di hutan. Faris terus berjalan dan mencari sampai dia lupa pada tujuannya. Tak lama kemudian dia melihat anak itu berdiri diatas batu, segera faris menghampirinya

“adek kok kamu bisa ada disini sih?, pulang yuk kita cari mamamu”

Anak itu menggeleng. Faris semakin bingung dengan jawaban anak itu yang menggelengkan kepalanya. Dia masih berusaha untuk membujuknya agar mau ikut dengannya agar bisa membawanya kembali ke orang tuannya karena faris berpikir orang tuanya pasti sedang sangat khawatir padanya

“ayo dek kita pulang ya, biar kakak gendong saja bagaimana?”

“mau pulang kemana kak?, rumah kita kan di sini”

Kali ini jawaban anak itu semakin tidak jelas dia merasa ada yang benar-benar aneh padanya. Suara anak itu tiba-tiba terdengar di segala arah hutan, suara yang sangat kuat dan nyaring membuat telinganya sakit “kak faris sini”  begitu suaranya. Faris menutup telinganya, berusaha menghilangkan suara itu dari pendengarannya, dan suara itupun lenyap bersama suara serangga. Faris mulai merasa ada yang tidak beres dengan perjalanannya itu, akhirnya dia berjalan turun untuk kembali ke tempat loket. Faris berusaha turun dengan cepat, dengan rasa takut yang dialaminya membuat faris melupakan rasa sakitnya. Faris terus berjalan dengan cepat hingga dia tersandung di akar pohon yang membuatnya jatuh waktu mencari kayu bakar waktu itu. Kali ini kaki kanannya ikut terkilir. Dengan kedua kakinya yang terkilir itu faris masih mencoba untuk berjalan turun dari gunung hingga membuatnya terpeleset ke sisi tebing yang cukup dalam. Faris terjatuh ke jurang yang membuat lengannya patah, yang membuatnya merintih kesakitan akibat cederanya itu. Kali ini suara anak itu kembali terdengar

“lu siapa woy!!, ngapain lu ngikuti gua hahhh!”

Dengan nada yang sangat marah dan rasa takut yang membuatnya tak terkendali, faris terus berteriak. Tak lama anak itu muncul tepat disisi kanan faris dan berkata kepadanya sembari tersenyum manis

“hai kak, kakak tenang saja, sekarang kakak sudah baik-baik aja kok, jadi kakak gak usah khwatir ya”

“tenang bagaimana!, lu siapa haa!” tanya faris dengan muka yang mulai memutih dan suara gemetar

“coba pegang muka kakak supaya kakak tahu kenapa”

Faris masih merasa sangat takut, dia menyentuh wajahnya dan dia merasakan bahwa bola matanya tidak ada dan kulit dalam wajahnya terasa. Faris terkejut dengan apa yang dia rasakan pada wajahnya. Dia bergegas mengambil panci aluminium dalam tasnya untuk bercermin, dan dia benar-benar sangat syok dan sontak dia berpikir, selama ini yang dia temui dari semenjak kejadian dipersimpangan dimana ada sebuah truk counteiner menyalipnya yang membuatnya menepi kepinggir jalan adalah bukan manusia. dan kejadian itu telah membuatnya terjatuh hingga wajahnya menabrak pembatas jalan dengan sangat kuat dan membuat jiwanya tidak tenang. Fakta yang sangat menyakitkan baginya hingga dia tidak bisa menahan rasa sedih yang sudah membendung di hatinya. Kali ini dia sudah tahu siapa dirinya dan apa yang terjadi sebenarnya. Dan faris tercatat meninggal dunia pada tanggal tiga november 2024, sepuluh hari setelah ibunya meninggal. Dan sekarang dia sudah benar-benar tenang dan pergi menyusuli ibu tercintanya.

About the Author

Aku adalah orang yang terjebak dalam kabut kebingungan, linglung tanpa jejak, dihantui keresahan yang datang tanpa suara. Setiap langkahku terasa tersesat, terjerat dalam kusutnya pikiran yang tak pernah tahu arah. Di dalam diam, aku mencoba merangk…

إرسال تعليق

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.