
Kepuasan adalah salah satu aspek yang rumit dalam kehidupan manusia. Seringkali, kita mengira bahwa jika kita memiliki sesuatu yang diinginkan, maka kita akan merasa cukup. Namun, kenyataannya setelah kita benar-benar memiliki apa yang kita impikan, keinginan kita malah semakin bertambah. Artikel ini akan mengeksplorasi alasan di balik fenomena ini dan mencoba menjelaskan mengapa kita terus merasa tidak puas, serta apakah kita harus melawan rasa tidak pernah merasa puas ini atau justru membiarkannya.
Adaptasi Hedonik
Hedonic adaptation atau adaptasi hedonik adalah konsep dalam psikologi yang menjelaskan mengapa manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan dasar mereka setelah mengalami perubahan signifikan dalam hidup, baik itu positif maupun negatif. Misalnya, seseorang mungkin merasa sangat bahagia setelah mendapatkan pekerjaan baru atau membeli rumah baru. Namun, seiring berjalannya waktu, kegembiraan tersebut akan memudar dan orang tersebut akan kembali ke keadaan emosional yang lebih stabil.
Para peneliti dalam Review of General Psychology menyatakan bahwa jika kepuasan dan kesenangan bersifat permanen, mungkin akan ada sedikit insentif untuk terus mencari manfaat atau kemajuan lebih lanjut. Dalam kata lain, merasa puas tidak baik untuk kelangsungan spesies kita karena nenek moyang kita harus terus bekerja keras dan berusaha lebih jauh untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Oleh karena itu, kita berevolusi untuk tetap merasa tidak puas.
Kebosanan
Kebosanan adalah salah satu faktor psikologis yang membuat kepuasan menjadi sementara. Panjangnya upaya yang dilakukan orang untuk menghindari kebosanan sangat mengejutkan. Dalam sebuah studi tahun 2014 yang diterbitkan di Science, partisipan diminta duduk di ruangan kosong selama lima belas menit. Ruangan tersebut hanya berisi alat yang memungkinkan mereka untuk menyetrum diri sendiri dengan kejutan listrik ringan namun menyakitkan.
Hasilnya, 67 persen pria dan 25 persen wanita lebih memilih menyetrum diri sendiri daripada hanya duduk dan berpikir. Ini menunjukkan bahwa orang tidak suka sendirian dengan pikirannya sendiri dan akan memilih untuk melakukan apa saja, bahkan aktivitas negatif, untuk menghindari kebosanan.
Bias Negatif
Bias negatif adalah fenomena di mana peristiwa negatif lebih menonjol dan menuntut perhatian lebih kuat daripada peristiwa netral atau positif. Ini tampaknya merupakan fakta dasar psikologi bahwa hal buruk lebih kuat daripada hal baik. Bayi mulai menunjukkan tanda-tanda bias negatif sejak usia tujuh bulan, menunjukkan bahwa kecenderungan ini bawaan.
Contoh nyata dari bias negatif adalah ketika seseorang mendapatkan feedback di tempat kerja. Misalnya, seorang karyawan menerima sepuluh komentar positif tentang pekerjaannya dan satu komentar negatif. Bias negativitas membuat karyawan tersebut lebih fokus pada komentar negatif tersebut dan merasa kecewa atau tidak puas dengan kinerjanya secara keseluruhan, meskipun mayoritas umpan balik yang diterimanya positif. Hal ini menunjukkan bagaimana peristiwa negatif dapat lebih berpengaruh terhadap perasaan kita dibandingkan dengan peristiwa positif, yang akhirnya membuat kita merasa tidak pernah benar-benar puas dengan pencapaian kita.
Bias ini mungkin memberi kita keuntungan evolusioner karena hal-hal buruk dapat membunuh kita, sehingga kita lebih memperhatikan hal-hal negatif terlebih dahulu dan mengingatnya lebih baik. Namun, ini juga berarti bahwa kita lebih cenderung mengingat pengalaman buruk, bahkan jika secara umum kita merasa bahagia.
Ruminasi
Ruminasi adalah kecenderungan untuk terus memikirkan pengalaman buruk. Jika Anda pernah terus-menerus memikirkan sesuatu yang Anda lakukan atau yang dilakukan orang lain kepada Anda, maka Anda telah mengalami ruminasi. Ini bisa berwujud dalam pikiran kritis terhadap diri sendiri seperti, "Mengapa saya tidak bisa mengatasinya dengan lebih baik?"
Contohnya, seseorang yang gagal dalam presentasi penting di kantor mungkin terus memikirkan kesalahan yang dibuatnya, seperti salah ucap atau lupa materi. Meskipun orang-orang di sekitarnya mungkin tidak terlalu memperhatikan kesalahan tersebut atau bahkan menganggap presentasinya cukup baik, orang tersebut tetap merasa tidak puas dengan dirinya sendiri karena terus meruminasi kesalahan yang terjadi. Ruminasi ini dapat menghalangi orang tersebut untuk melihat prestasi lain yang telah dicapai dan membuatnya merasa tidak pernah benar-benar puas.
Ruminasi mungkin membantu kita menemukan sumber kesalahan atau strategi alternatif sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dan mungkin melakukan lebih baik di masa depan. Namun, proses ini juga bisa membuat kita merasa sengsara.
Hierarki Kebutuhan Maslow
Abraham Maslow mengembangkan teori hierarki kebutuhan yang menyatakan bahwa manusia memiliki berbagai tingkat kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisiologis dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri. Setelah kebutuhan dasar seperti makan, minum, dan tempat tinggal terpenuhi, manusia akan mencari pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi seperti rasa aman, cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Ketika kebutuhan pada satu tingkat terpenuhi, kita akan berusaha memenuhi kebutuhan pada tingkat berikutnya. Proses ini berlanjut sepanjang hidup dan sering kali membuat kita merasa tidak pernah benar-benar puas karena selalu ada kebutuhan baru yang muncul.
Apakah Kita Harus Melawan Rasa Tidak Pernah Merasa Puas?
Pertanyaan ini penting untuk dipahami dalam konteks kehidupan kita sehari-hari. Rasa tidak puas memiliki sisi negatif dan sisi positif yang perlu kita pertimbangkan. Berikut adalah beberapa pandangan tentang apakah kita harus melawan rasa tidak puas atau justru membiarkannya:
- Mengelola Bukan Melawan:
- Daripada mencoba melawan rasa tidak puas sepenuhnya, kita dapat belajar untuk mengelolanya. Menyadari bahwa rasa tidak puas adalah bagian dari kondisi manusia yang dapat mendorong kita menuju pencapaian yang lebih besar adalah langkah pertama. Namun, penting untuk mengelolanya agar tidak menjadi sumber stres dan kecemasan yang berlebihan, atau apapun yang merugikan kita. Seperti mengimbanginya dengan rasa syukur, karena pencapaian sekecil apapun, bahkan meskipun masih belum mencapai target, itu layak disyukuri sebagai perkembangan dan kemajuan diri kita.
- Menjadikan Rasa Tidak Puas sebagai Motivasi
- Rasa tidak puas dapat menjadi pendorong untuk terus belajar dan berkembang. Jika digunakan dengan bijak, rasa tidak puas dapat mendorong kita untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi dan bekerja lebih keras untuk mencapainya.
- Menerima Ketidakpuasan sebagai Bagian dari Kehidupan:
- Menerima bahwa kita tidak akan pernah benar-benar puas sepenuhnya dapat membantu kita mengelola harapan dan mengurangi stres. Memahami bahwa ketidakpuasan adalah bagian dari perjalanan hidup dapat membuat kita lebih bersyukur atas pencapaian kita saat ini.
Kesimpulan
Ketidakpuasan manusia adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor psikologis, sosial, dan biologis. Adaptasi hedonik, kebosanan, bias negativitas, ruminasi, dan hierarki kebutuhan semuanya berkontribusi pada perasaan bahwa kita tidak pernah benar-benar puas. Memahami faktor-faktor ini dapat membantu kita mengelola harapan dan mencari cara yang lebih sehat untuk mencapai kepuasan dalam hidup.
Meskipun kita mungkin tidak pernah benar-benar puas, ini bukan alasan untuk menyerah. Ketidakpuasan mendorong kemajuan dan inovasi. Setiap hari adalah kesempatan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai kita dan mengejar tujuan yang berarti. Dengan memahami dan menerima ketidakpuasan sebagai bagian dari kehidupan manusia, kita bisa belajar untuk menghargai perjalanan dan bukan hanya tujuannya. Mengelola rasa tidak puas, menjadikannya sebagai motivasi, dan menerimanya sebagai bagian dari kehidupan adalah kunci untuk mencapai keseimbangan dan kepuasan yang lebih besar dalam hidup.
Referensi
https://www.nirandfar.com/why-you-are-never-satisfied/