Hening menyelimuti ruangan itu, hanya ada suara kipas tua yang berputar, beradu dengan detak jantung Azka yang semakin tak karuan. Di luar jendela, langit senja memancarkan warna jingganya yang memudar layaknya perasaan yang terpendam lama.
Di sudut ruangan, Azka memandangi meja kayu kecil, tempat di mana Aidia duduk, Aidia adinda Kalora namanya. dia sedang membaca buku "berusaha tenang di dunia yang berisik", wajahnya terlihat begitu ceria sebagaimana biasanya, tapi di balik itu, ada banyak hal yang ingin Azka katakan kepadanya, tapi sayangnya api keberanian itu selalu padam.
"Aidia" tiba-tiba Azka spontan memanggilnya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara kipas.
Aidia menoleh, menatapnya dengan mata coklat kebiru-biruan yang nyaris selalu membuatnya tak bisa berkata-kata. "ya?"
Azka terdiam sejenak, merasa kebingungan, seperti mencari-cari alasan untuk menutupi kegelisahan yang dialaminya.
"Emmm, besok hari terakhir ujian kan? gimana, kamu udah siap?"
Aidia tersenyum, senyuman yang selalu menenggelamkannya, sedalam-dalamnya, "seperti biasa, kalau kamu?"
"Lumayan" jawab Azka singkat.
Hening kembali menyelimuti mereka. Azka tahu, bahwa momen ini adalah momen terakhir mereka bisa duduk bersama seperti ini. Aidia akan segera pindah tempat untuk melanjutkan studinya, tempat yang jauh, tempat yang mungkin tak akan bisa Azka kunjungi. waktu yang tersisa terasa begitu sedikit, tapi ia tak pernah berhasil mengungkapkan perasaannya.
"Aidia" panggilnya, kali ini dengan perasaan mantap, ia sambil mengetukan jarinya ke meja sambil berpikir.
"Hmm?"
"Pernah gak kamu ngerasa.... ingin ngungkapin sesuatu, tapi gak kamu ungkapin cuman gara-gara takut ngerusak semuanya?"
Aidia meletakan buku yang ia pegang, wajahnya sedikit berubah, tapi tetap dengan wajah yang tenang. "iya pernah, emang kenapa?"
Azka menelan ludah, tubuhnya berkeringat, seakan ia berada di padang mahsyar. "terus, kenapa kamu gak ngungkapin?"
Aidia mengangkat bahunya "ya, aku pikir lebih baik seperti ini. setidaknya, apa yang ada sekarang tetap indah" jawab Aidia
Jawaban itu membuat Azka merasakan sesak, ia tahu apa maksudnya, mereka berdua merasakan hal yang sama, tapi sama-sama takut untuk mengambil langkah.
"Aidia aku-" kalimat itu mengambang di udara. Aidia menatapnya seraya tersenyum tipis seperti sedang mencoba menenangkan.
"Azka, kamu tahu, ada hal-hal yang justru lebih indah kalau tetap menjadi misteri," Aidia tersenyum kecil, senyum yang terasa lebih seperti isyarat daripada sekadar gestur ramah.
Azka mengerutkan dahi. "Maksud kamu apa?"
Aidia tidak menjawab, hanya menatap senja di luar jendela, seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Lalu kemudian ia pergi.
Sementara Azka tetap bingung, apakah itu sebuah penolakan atau justru sebuah pengakuan yang terselubung?. Ketika Aidia pergi, Azka melihat buku itu tertinggal di meja. Di antara halamannya, ada sesuatu yang mencuat, seperti catatan kecil yang sengaja diselipkan. Tapi Azka tidak membukanya, tidak malam itu, mungkin tidak pernah.
Saat senja perlahan menghilang di balik cakrawala, ia tetap duduk dalam diam, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak dari pada kata-kata yang ia simpan. dan mungkin, di hati Azka, itu sudah cukup.