
Dulu, saya hobi banget bermain Facebook. Karena di situlah tempat saya merasa senang berinteraksi dengan banyak orang. Di situ saya juga banyak mengambil manfaat seperti belajar banyak hal-hal baru yang dapat membantu saya meningkatkan suatu keterampilan tertentu.
Pernah suatu saat saya mengomentari sebuah postingan di sebuah grup yang menanyakan tentang suatu hal yang belum ia pahami. Lantas karena saat itu saya merasa paham dan merasa bisa menjawab pertanyaan itu, saya pun menjawabnya dengan niat membantu si penanya. Selang beberapa waktu, saya mendapat notifikasi dari Facebook bahwa ada seseorang yang membalas komentar saya. Saya pun langsung mengecek sambil penasaran bagaimana respon orang terhadap komentar saya tersebut. Setelah dilihat, saya kaget dan agak sakit hati membacanya. Ada orang lain, dan itu bukan si penanya, membalas komentar saya dengan kata-kata kasar sambil bilang kalau pernyataan saya itu salah. Yang bikin ngeganjel dipikiran saya waktu itu adalah "Kenapa nggak dikasih tahu benarnya gimana? Kok cuman bilang salah doang, sambil make kata-kata kasar lagi! Padahal saya komentar dengan niat bantuin orang aja!"
Okelah meskipun toh saya memang benar-benar salah, tapi kan ya seharusnya dijelaskan jawaban yang benarnya itu bagaimana agar banyak orang dapat mengambil manfaat dari situ dan juga tidak terkesan seperti orang-orang yang suka melakukan hate comment gak jelas. Kalau sudah begini, komentar orang tersebut tidak hanya tidak membawa manfaat, malah bikin mudarat.
Dari cerita saya di atas ini, bisa dibayangkan betapa tidak kondusifnya interaksi sosial jika misalkan banyak orang-orang yang melakukan hal yang sama. Seperti halnya saya waktu itu, kalian mungkin juga akan bertanya-tanya mengapa kejadian itu bisa terjadi? Mengapa orang tersebut melontarkan kata-kata kasar sambil menyalahkan orang lain tanpa memberi tahu benarnya gimana? Atau secara umum, Mengapa ada orang-orang yang bisa membuat komunikasi dan interaksi sosial terasa toxic sehingga terasa tidak menyenangkan? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami apa yang oleh disiplin psikologi sebut sebagai Theory of Mind (ToM).
Apa itu Theory of Mind?
Theory of Mind adalah kemampuan untuk mengaitkan kondisi mental — keyakinan, niat, keinginan, emosi, dan pengetahuan — pada diri kita sendiri dan orang lain. Jadi, kemampuan ini membuat kita dapat memahami bahwa orang lain memiliki kondisi mental, pemikiran, keyakinan, niat, dan keinginan yang berbeda, sehingga memungkinkan kita menyimpulkan dan memprediksi perilaku mereka serta berempati dengan perspektif mereka.
Sebagai manusia, kita berasumsi bahwa orang lain memiliki keinginan, pemikiran, keyakinan, dan sebagainya, dan dengan demikian menyimpulkan keadaan yang tidak dapat diamati secara langsung. Kita menggunakan keadaan ini secara antisipatif untuk memprediksi perilaku orang lain serta diri kita sendiri (Premack & Woodruff, 1978).
Jadi, kalau kita kembali ke pertanyaan tadi, mengapa ada orang-orang yang bisa membuat komunikasi dan interaksi sosial terasa toxic sehingga terasa tidak menyenangkan? Itu karena mereka memiliki kemampuan Theory of Mind yang cukup buruk. Mereka tidak mencoba untuk memahami isi kepala dari lawan komunikasinya sehingga tidak bisa merespon dengan sesuai. Maka dari itu, mereka pun tidak dapat berempati dengan baik, yang berkonsekuensi terjadinya komunikasi yang toxic.
Andai saja misalkan pada kasus cerita saya tadi, si orang yang membalas komentar saya itu menggunakan kemampuan Theory of Mind yang baik, niscaya komentar seperti itu tidak akan ia lontarkan. Sebelum merespon komentar saya, pertama-tama pasti ia akan mencoba memahami isi kepala saya dan akan menyimpulkan bahwa:
- "Dia sampai membantu si penanya untuk mendapatkan jawaban, pasti tertarik dan mempelajari ilmu tersebut. Jadi kalau saya kasih tambahan ilmu dia pasti senang, jadi saya harus mengoreksi pernyataannya dan menunjukkan kalo yang benar itu begini"
- "Bagi saya, dikoreksi oleh orang lain secara keras dan kasar pun tak masalah apabila faktanya saya memang salah. Saya tidak akan sakit hati karena itu, malah bersyukur sudah dikoreksi. Kata kasar yang saya terima juga memang layak karena kecerobohan saya yang ini berpotensi menyesatkan orang lain. Namun, setiap orang pasti memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Tidak semua orang mempunyai pemikiran seperti ini. Jadi, karena saya tidak begitu tahu terhadap orang ini, jadi lebih baik saya tidak meresponnya dengan keras dan kasar."
- "Orang yang mengalami penilaian salah akan merasa sangat tidak nyaman apalagi di ruang publik yang itu bisa dilihat oleh semua orang. Dan jika saya melakukannya, maka orang tersebut akan merasa begitu. Maka dari itu, saya harus menggunakan bahasa yang lebih santun untuk mengoreksi pernyataan salah tersebut."
- "Saya juga mengerti bahwa orang ini sempat-sempatnya meluangkan waktu dan energinya untuk menjawab pertanyaan, pasti niatnya baik untuk membantu orang. Jadi saya tetap harus mengapresiasi usahanya dengan memberi respon yang baik sehingga dia tidak merasa buruk lantaran berbuat baik."
Jadi, dengan kita mencoba "merasuki pikiran orang lain", kita akan lebih bisa memahami pikiran-pikiran apa yang melandasi tindakannya sehingga kita lebih mudah menghormati dan berempati kepadanya, sehingga interaksi sosial kita tidak berantakan. Meskipun tentu bisa saja kesimpulan dan prediksi dari kita mencoba memahami isi kepala orang lain tidak begitu akurat. Karena memang kita tidak mempunyai cara langsung untuk mengetahui secara pasti apa yang dipikirkan seseorang. Maka dari itu, Psikolog menyebutnya Theory of Mind karena keyakinan kita tentang apa yang mungkin terjadi di kepala orang lain hanyalah sekedar teori. Yang bisa kita andalkan hanyalah teori-teori kita sendiri yang kita kembangkan berdasarkan apa yang orang lain katakan, bagaimana mereka bertindak, apa yang kita ketahui tentang kepribadian mereka, dan apa yang bisa kita simpulkan tentang niat mereka.
Pentingnya Theory of Mind
Kemampuan Theory of Mind sangat penting bagi kita. Menempa Theory of Mind yang kuat memainkan peran penting dalam dunia sosial saat kita berupaya memahami cara orang lain berpikir, memprediksi perilaku mereka, terlibat dalam hubungan sosial, dan menyelesaikan konflik antarpribadi. Kemampuan untuk menyimpulkan apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain merupakan landasan untuk membangun dan memelihara hubungan, berkomunikasi dengan jelas, dan bekerja sama secara efektif.
Untuk berinteraksi dengan orang lain, penting untuk mampu memahami kondisi mental mereka dan memikirkan bagaimana kondisi mental tersebut dapat memengaruhi tindakan mereka.
Theory of Mind memungkinkan orang menyimpulkan niat orang lain, serta memikirkan apa yang ada di kepala orang lain, termasuk harapan, ketakutan, keyakinan, dan ekspektasi. Interaksi sosial bisa jadi kompleks/rumit, dan kesalahpahaman bisa membuatnya semakin kompleks/rumit. Dengan mampu mengembangkan gagasan/ide akurat tentang apa yang dipikirkan orang lain, kita akan lebih mampu meresponsnya, sehingga dunia sosial kita jadi lebih kondusif.
Manfaat Theory of Mind
Theory of Mind sebenarnya bisa kita terapkan di area manapun karena sangat erat kaitannya dengan penyimpulan dan prediksi. Misalkan dalam dunia game, saat kita dan teman kita bermain game eFootball™, kita bisa coba menyimpulkan dan memprediksi caranya bermain. Entah itu karena teman kita punya watak yang agresif yang menyebabkan permainannya juga agresif, sehingga dari situlah kita bisa mengantisipasi dan meracik strategi untuk mengalahkan seseorang yang bermain agresif. Intinya, Theory of Mind memberikan efek kita jadi tahu bagaimana caranya bersikap dan mengambil keputusan dengan tepat yang ini sangat dibutuhkan di berbagai situasi dan kondisi.
Problem dengan Theory of Mind
Theory of Mind mulai berkembang sekitar usia 2 tahun, dengan pemahaman sederhana tentang sudut pandang orang lain. Aspek yang lebih kompleks, biasanya berkembang sekitar usia 4 hingga 5 tahun. Aspek ini terus menjadi matang dan disempurnakan sepanjang masa remaja dan dewasa. Namun, beberapa individu dengan autisme, Asperger, skizofrenia, depresi, atau gangguan kecemasan sosial menunjukkan minus dalam Theory of Mind.
Kesimpulan & Penutup
Cerita yang saya alami di atas tidak akan terjadi jika orang-orang menggunakan Theory of Mind, dan begitu pula hal-hal serupa lainnya. Tidak jarang di kehidupan sehari-hari kita melihat orang yang tersinggung, tidak terima, dan marah-marah karena perbeadaan keyakinan misalnya. Mereka menginginkan bahwa semua orang harus memiliki keyakinan yang sama dengan dirinya, mengabaikan fakta bahwa keyakinan setiap orang dapat berbeda-beda sesuai pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan kognitif masing-masing.
Demi interaksi sosial yang kondusif dan menyenangkan, maka memiliki Theory of Mind yang baik merupakan keniscayaan.
Referensi
https://www.simplypsychology.org/theory-of-mind.html
https://www.psychologytoday.com/us/basics/theory-of-mind
https://www.verywellmind.com/theory-of-mind-4176826