
Dalam menjalani kehidupan di alam semesta yang luas ini, kita mungkin pernah terpikir pertanyaan mendasar tentang asal-usul segala sesuatu. Satu pemikiran menarik untuk merespon hal itu adalah konsep bahwa harus ada sesuatu yang selalu ada, entitas yang tidak pernah mengalami ketiadaan. Ini berbeda dengan pola umum semesta yang menunjukkan bahwa keberadaan sesuatu selalu diawali dari ketiadaan. Entitas ini menjadi ujung awal segalanya, karena tidak ada yang mengadakannya. Jika tidak demikian, maka ujung awal dari segala sesuatu akan menjadi tidak jelas, dan ketidakjelasan ini sangat tidak masuk akal.
Tuhan Sebagai Awal Mula Segalanya
Keberadaan ujung awal segalanya ini bisa lebih diterima oleh akal jika kita sambungkan dengan istilah yang ditawarkan oleh disiplin Teologi yaitu Tuhan. Tuhan sebagai entitas yang berada di luar pola alam semesta, entitas sangat unik yang tidak memiliki kesamaan dengan apa pun yang ada di dalam alam semesta ini. Tuhan sebagai pencipta agung yang berada di luar hukum-hukum alam yang kita pahami dan terbebas dari batasan-batasan yang mengatur eksistensi segala sesuatu.
Meskipun konsep adanya ujung awal segalanya ini juga sulit untuk diterima secara logis, namun lebih tidak masuk akal lagi jika kita membayangkan semesta tanpa ujung awal yang jelas. Ketidakmasukakalan keyakinan adanya entitas yang menjadi ujung awal segalanya ini terletak pada pemikiran bahwa sesuatu harus dimulai dari ketiadaan, dan tidak mungkin ada sesuatu yang selalu ada. Namun, dengan meyakini adanya entitas yang menjadi ujung awal, berarti kita mengakui keberadaan suatu entitas yang tidak pernah tidak ada dan tidak ada yang mengadakannya. Oleh karena itu, meskipun keyakinan tentang adanya entitas yang menjadi ujung awal segalanya ini tidak masuk akal dalam konteks pola mainstream alam semesta, keyakinan ini dapat diterima oleh akal karena memang berada di luar pola tersebut.
Dengan demikian, wajar jika keyakinan ini tidak masuk akal, karena ia sudah berada di luar pola mainstream alam semesta, sementara otak kita cenderung menganggap sesuatu masuk akal jika sesuai dengan pola mainstream yang kita kenal.
Argumen Utama
Narasi di atas mengandalkan premis bahwa harus ada sesuatu yang selalu ada yang karena ia selalu ada maka tidak ada yang mengadakannya lagi. Dalam konteks ini, Tuhan dianggap sebagai entitas yang "selalu ada" dan oleh karenanya tidak memerlukan pencipta. Dengan begitu, Tuhan menjadi entitas yang mengatasi ketidakjelasan konsep ujung awal segalanya. Dalam pandangan ini, meskipun konsep tentang Tuhan sulit dipahami atau bahkan tidak masuk akal dalam kerangka berpikir manusia, ia tetap lebih masuk akal dibandingkan dengan gagasan bahwa alam semesta ada tanpa ujung awal yang jelas.
Selain itu, konsep Tuhan sebagai entitas yang "selalu ada" memungkinkan adanya suatu landasan tetap dan tidak berubah yang menjadi basis dari segala eksistensi lainnya. Ini memberikan suatu titik awal yang absolut, berbeda dengan pola alam semesta yang kita kenal, di mana segala sesuatu berawal dari ketiadaan.
Argumen Bantahan
Mengasumsikan adanya Tuhan yang selalu ada tidak menyelesaikan masalah, tetapi hanya menggeser pertanyaan lebih jauh: Mengapa Tuhan ada? Jika kita bisa menerima bahwa Tuhan bisa "selalu ada" tanpa sebab, mengapa kita tidak bisa menerima bahwa alam semesta atau multiverse bisa "selalu ada" tanpa sebab? Ini menunjukkan bahwa memasukkan entitas Tuhan sebagai penjelasan ujung awal segalanya mungkin hanya menggantikan satu misteri dengan misteri lainnya.
Menjawab Argumen Bantahan
Argumen bahwa sains dan akal manusia hanya bisa digunakan dari sejak terjadinya Big Bang dan tidak bisa melihat dan merumuskan pengetahuan apapun sebelum Big Bang merupakan poin penting dalam diskusi ini. Pengetahuan ilmiah saat ini sangat terbatas pada peristiwa dan kondisi setelah Big Bang. Model matematis dan pengamatan astronomis semuanya didasarkan pada data yang tersedia dari alam semesta pasca-Big Bang. Segala sesuatu yang terjadi "sebelum" Big Bang, jika istilah tersebut bahkan relevan, berada di luar jangkauan pengetahuan ilmiah konvensional kita.
Dalam konteks ini, eksistensi Tuhan sebagai entitas yang sudah ada sebelum Big Bang wajar jika tidak masuk akal menurut sains dan akal manusia. Ketidakmampuan sains untuk menjangkau atau menjelaskan apa yang ada sebelum Big Bang membuat konsep Tuhan sebagai entitas yang selalu ada tidak hanya menjadi tidak dapat diuji secara ilmiah, tetapi juga berada di luar batasan rasionalitas manusia.
Namun, hal ini juga bisa dilihat sebagai argumen yang mendukung keberadaan Tuhan. Ketika sains dan akal manusia mencapai batasnya, konsep Tuhan dapat dilihat sebagai jawaban yang melampaui batasan tersebut. Ketidakmasukakalan Tuhan, dalam hal ini, menjadi sebuah kewajaran karena Tuhan dianggap berada di luar kerangka kerja sains dan akal manusia. Tidak ada yang seperti-Nya. Ia jauh diluar yang kita bayangkan. Ia adalah sang maha yang akal kita pun tidak akan mampu merumuskan kemahaan-Nya. Karena Maha bukanlah pola alam semesta. Alam semesta tidak mengenal Maha karena tidak ada hal yang sempurna di dalamnya
Pandangan ini menegaskan bahwa ada batasan inheren dalam pengetahuan ilmiah dan rasional kita. Keberadaan Tuhan sebagai entitas yang selalu ada dan berada di luar pola alam semesta yang kita pahami tidak dapat dibuktikan atau disangkal secara ilmiah, tetapi tetap memberikan suatu penjelasan yang memadai bagi banyak orang tentang asal mula dan eksistensi alam semesta. Dengan demikian, argumen bahwa ketidakmasukakalan Tuhan adalah sebuah kewajaran dapat diterima dalam konteks keterbatasan pemahaman manusia tentang realitas yang lebih luas.
Maka dari itu, merespon dari pertanyaan pada argumen bantahan di atas, menurut saya: "wajar kita tidak bisa menjawab 'mengapa Tuhan ada' karena Tuhan itu sudah ada sebelum alam semesta ada, sementara sains dan akal hanya bekerja pada alam semesta." Sains dan akal manusia dibatasi oleh ruang dan waktu yang dikenal, yang dimulai dari Big Bang. Oleh karena itu, apapun yang ada sebelum Big Bang berada di luar jangkauan sains dan akal.
Namun, ketika kita mempertimbangkan alam semesta yang selalu ada, kita berhadapan dengan kontradiksi pola alam semesta itu sendiri. Alam semesta, berdasarkan pengamatan dan pemahaman kita, memiliki pola dimana sesuatu yang ada berawal dari tidak ada. Kita tahu bahwa teknologi komputer sekarang ada, yang beberapa ratus tahun yang lalu itu tidak ada. Bahkan diri kita sendiri yang sekarang ada, sebelumnya pernah tidak ada.
Menerima bahwa alam semesta selalu ada tanpa awal mengingkari pola yang telah kita amati, yaitu bahwa segala sesuatu yang ada berawal dari ketiadaan. Ini berbeda dengan asumsi tentang Tuhan, yang secara inheren di luar dan tidak tunduk pada pola alam semesta. Tuhan, dalam argumen ini, tidak perlu mengikuti aturan yang berlaku dalam alam semesta karena Ia dianggap berada di luar pola dan sudah ada sebelum alam semesta itu sendiri.
Dengan demikian, konsep bahwa Tuhan adalah entitas yang selalu ada yang sekaligus menjadi awal mula segalanya dapat diterima karena kita mengakui keterbatasan sains dan akal dalam menjangkau apa yang ada sebelum Big Bang. Sebaliknya, menerima bahwa alam semesta selalu ada tanpa asal mula mengabaikan pola yang telah kita amati dan pahami dalam batasan alam semesta itu sendiri.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, argumen tentang Tuhan sebagai entitas yang "selalu ada" menawarkan solusi terhadap masalah ujung awal atau asal mula segalanya yang membingungkan, sementara juga mempertimbangkan keterbatasan pengetahuan ilmiah kita. Sains dan akal manusia, yang bekerja dalam batasan-batasan alam semesta pasca-Big Bang, tidak dapat menjangkau atau menjelaskan apa yang ada sebelum Big Bang. Oleh karena itu, eksistensi Tuhan yang selalu ada menjadi sebuah kewajaran dalam kerangka pemikiran yang mengakui keterbatasan ini.
Pandangan bahwa alam semesta selalu ada tanpa asal mula menghadapi tantangan karena bertentangan dengan pola yang telah diamati. Sebaliknya, konsep Tuhan sebagai entitas yang selalu ada tidak tunduk pada pola ini dan oleh karena itu dapat diterima sebagai penjelasan yang lebih memadai tentang asal mula eksistensi. Diskusi tentang asal mula alam semesta dan eksistensi Tuhan akan terus menjadi topik yang menarik dan relevan dalam perjalanan intelektual manusia, selalu berkembang seiring dengan perkembangan pemahaman ilmiah dan filosofis kita.